|
Laba Bersih PLN Rp 6,1 Triliun
|
|
Oleh una
Rabu, 18 Agustus 2010 / 13:40:30 |
|
|
|
|
|

-
PT PLN (Persero) pada Semester I Tahun 2010 mencatatkan laba bersih sebesar Rp. 6,146 Triliun. Dibandingkan dengan Semester I tahun 2009, laba perusahaan tersebut mengalami penurunan sebesar 1,2%. Kondisi tersebut disebabkan oleh adanya peningkatan pembelian bahan bakar dan pelumas hingga 21%. Kendati demikian, total asset PLN naik hingga 16% dari Rp 305,518 triliun menjadi Rp 354,581 triliun. “PLN terpaksa memperbesar pembelian bahan bakan minyak (BBM) karena pasokan gas ke PLTGU Muara Tawar turun sampai 50% dari yang sudah dijanjikan, sehingga terpaksa harus digantikan dengan BBM. Selain itu, program bebas padam yang ditargetkan terlaksana awal Juli 2010 juga membuat PLN mengkonsumsi BBM lebih banyak lagi,” kata Direktur Keuangan PLN Setio Anggoro Dewo.
-
Kendati mengalami lonjakan biaya pembelian energi, kondisi keuangan PLN diimbangi oleh kenaikan pendapatan usaha yang berasal dari penjualan tenaga listrik sebesar 12,8%, yakni dari Rp 43,494 triliun pada tengah tahun 2009 menjadi Rp 49,070 triliun. Selain itu subsidi pemerintah juga meningkat sebesar 11,5% dari Rp 24,697 triliun menjadi Rp 27,538 triliun.
-
Laporan Semester I tahun 2010 ini juga ditandai oleh penurunan laba kurs dari Rp 3,4 triliun menjadi Rp 1,959 triliun. Laba tersebut terjadi karena PLN mencatatkan adanya fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap beberapa mata uang asing yang digunakan sebagai alat transaksi oleh PLN. Per 30 Juni 2010 perusahaan memiliki asset dan kewajiban dalam mata uang yen, dolar AS, euro dan lain-lain dengan jumlah utang bersih sebesar Rp 68,175 triliun.
-
Dari sisi asset, PLN mencatatkan kenaikan yang signifikan baik untuk asset lancar maupun tidak lancar. Kenaikan sebesar 68,3% pada asset lancar disebabkan oleh peningkatan kas dan setara kas dari Rp 9,637 triliun menjadi Rp 23,059 triliun (139,3%). Investasi jangka pendek juga meningkat 74% dari Rp 2,558 triliun menjadi Rp 4,463 triliun. Secara keseluruhan, total asset lancar naik dari Rp 32,138 triliun pada pertengahan 2009 menjadi Rp 54,080 triliun pada periode yang sama tahun ini.
-
Aset tidak lancar juga mengalami kenaikan sekitar 10%, dari Rp 273,379 triliun menjadi Rp 300,501 triliun. Hal ini terutama dipicu oleh kenaikan asset tetap setelah dikurangi akumulasi penyusutan dan adanya pekerjaan dalam pelaksanaan.
|
|