| Gagal Lagi, Buru Lagi..! | |
|
Salah satu bait dalam tembang lagu Mbah Surip “Bangun Lagi, Tidur Lagi” mengingatkan kita pada peristiwa besar yang menimpa Densus 88, kegagalan menangkap gembong teror nomor wahid, Noordin M. Top (NMT). Seperti diketahui bahwa pekan lalu Detasemen khusus 88/Antiteror melakukan operasi penyergapan terhadap markas terorisme secara serempak di tiga tempat yakni; Temenggung, Bekasi dan Solo. Hasilnya, hanya mampu mengungkap jaringan dan sel baru terorisme, termasuk rencana aksi terror. Yang paling menarik tentu saja peristiwa Temenggung adalah sekurangnya selama 18 jam Densus 88 dipaksa menunggu untuk membuka tabir rahasia identitas sang tamu di salah satu rumah di Dusun Beji Kedu Temenggung. Informasi lapangan pada peritiwa ini dengan gencar menyebarkan tentang obyek buru yang diduga adalah NMT. Tak kurang Kapolri pun mencoba meyakinkan publik dengan secara langsung mengunjungi lokasi, lebih dari itu, kunjungan ini dapat dimaknai untuk memberikan semangat kepada tim Densus 88.Sekitar tiga hari setelah peristiwa penangkapan sang buruan, media utama di Malaysia, Singapura dan juga Australia mulai meragukan hasil buruan Densus 88. Tak kurang Rohan Guratna (Centre for Violance and Terrorism Singapura), Sidney Jones (International Crisis Grup) juga mulai membatah tentang penangkapan Noordin. Keraguan akan keaslian Noordin sebenarnya telah dapat diduga ketika sehari setelah peristewa Temenggung, Press Conference POLRI tidah secara eksplisit menyebutkan Noordin M. Top sebagai korban. Pertanyaan menarik yang perlu diajukan adalah, apa yang membuat Densus 88 begitu yakin akan obyek buru yakni NMT. Identifikasi NMT yang dikenal sebagai gembong teroris utama yang paling dicari, disandra dalam 18 jam yang hasilnya terbunuh. Sekitar satu minggu pasca periswa Temengung, POLRI mengakui secara terbuka, NMT bukanlah korban tembak, akan tetapi Ibrahim lah yang didapat. Sebagaimana diberitakan, Ibrahim atau Boim merupakan perancang teror, perekrut “pengantin” sekaligus pegawai di Ritz Carlton Hotel Mega Kunimgan Jakarta. Idealnya, untuk menangkap dan mempersempit ruang gerak NMT, posisi Ibrahim menjadi amat strategis. Mencari dan menangkap Ibrahim dalam keadaan hidup merupakan keharusan. Dengan ini, mengepung, mengebom Ibrahim seorang diri yang berakhir dengan tewasnya sang teroris tentu merupakan tindakan berlebihan, jika tidak ingin dikatakan kegagalan mempraktekkan sisi profesionalisme intelijen dan Densus 88. Kelemahan intelijen dan taktik yang dipkratekkan Densus 88 harus segera dievaluasi untuk menghindari kegagalan berikutnya. Ungkapan SBY, negara tidak boleh kalah dengan teroris memang ada benarnya. Hanya saja selama ini, NMT lebih cenderung “mengalahkan” negara dan pada peristiwa Temenggung, negara kalah telak, satu nol untuk NMT. Dengan ini, jejaring NMT tewas, NMT pun seperti terus bermain dengan keunikan dan kecerdikannya mempermainkan negara. Kini setelah gagal, mengutip bait lagu Mbah Surip, maka negara yang disimbulkan dengan kebaradaan intelijen dan Densus 88 harus memburu lagi. Gagal lagi, dan buru lagi! |

Salah satu bait dalam tembang lagu Mbah Surip “Bangun Lagi, Tidur Lagi” mengingatkan kita pada peristiwa besar yang menimpa Densus 88, kegagalan menangkap gembong teror nomor wahid, Noordin M. Top (NMT). Seperti diketahui bahwa pekan lalu Detasemen khusus 88/Antiteror melakukan operasi penyergapan terhadap markas terorisme secara serempak di tiga tempat yakni; Temenggung, Bekasi dan Solo. Hasilnya, hanya mampu mengungkap jaringan dan sel baru terorisme, termasuk rencana aksi terror. Yang paling menarik tentu saja peristiwa Temenggung adalah sekurangnya selama 18 jam Densus 88 dipaksa menunggu untuk membuka tabir rahasia identitas sang tamu di salah satu rumah di Dusun Beji Kedu Temenggung. Informasi lapangan pada peritiwa ini dengan gencar menyebarkan tentang obyek buru yang diduga adalah NMT. Tak kurang Kapolri pun mencoba meyakinkan publik dengan secara langsung mengunjungi lokasi, lebih dari itu, kunjungan ini dapat dimaknai untuk memberikan semangat kepada tim Densus 88.
Dua pekan menjelang Lebaran, Jalan Soekarno-Hatta Lampung masih dalam kondisi rusak cukup parah. 





