Keperdulian Adaro Pada Pelestarian Lingkungan : Ketika Sampah Menjadi Lebih Berguna
Oleh una    Senin, 31 Mei 2010 / 10:57:29    PDF Cetak E-mail

Ketika sampah menjadi lebih pointing artinya bagi kehidupan manusia, itulah hal sederhana yang membawa begitu banyak manfaat berhasil diwujudkan oleh tim tim enviro Adaro Tim Adaro bekerjasama dengan Universitas Lambung Mangkurat dan Universitas Hokaido mengembangkan penelitian untuk mengolah sampah organik menjadi kompos.


Kegiatan ini  satu lagi bentuk kepedulian Adaro dalam mengembangkan kepedulian pada lingkungan hidup dalam rangkaian Corporate Social Responsibility (CSR)  Komitmen ini dilaksanakan antara lain dalam bentuk konsep 3 R (Reduce, Reuse, Recycle) yaitu selain mengurangi limbah juga mengubahnya menjadi sesuatu yang bermanfaat bagi lingkungan.


Berangkat dari pemikiran bagaimana memanfaatkan sampah organik menjadi sesuatu yang lebih berguna itulah , tim enviro Adaro Tim Adaro bekerjasama universitas negeri terkemuka mengembangkan penelitian untuk mengolah sampah organik menjadi kompos.  Penelitian ini diarahkan untuk menghasilkan kompos yang berkualitas dan sesuai dengan Standar Nasional Indonesia (SNI) untuk pembuatan kompos.


Kegiatan yang dilakukan sejak awal tahun 2007 ini didukung dengan potensi sampah organik  di lingkungan Adaro yang berasal dari sisa-sisa makanan dari kantin pegawai Adaro.  Kantin Adaro yang terletak di dua lokasi yaitu di Dahai dan Wara 73, setiap harinya menyediakan makan untuk sekitar 400 orang. Sampah organik dikumpulkan dari dua lokasi ini ditambah dengan sampah organik dari lokasi kontraktor Adaro.


Dari beberapa lokasi ini dapat terkumpul 150 - 200 kg sampah basah. Setelah terkumpul baru dimasukkan bahan – bahan lain seperti dedak dan kotoran sapi yang berasal dari pertanian sapi Adaro. Setiap hari sampah ini diaduk sampai kompos terbentuk secara sempurna. Sampah ini kemudian dicincang serta ditumpuk dan dikumpulkan di bak inkubasi hingga diperkirakan mencapai 1 – 1,5 ton sampah basah. Untuk menambah unsur hara dan menstabilkan pH ditambahkan kapur pertanian.


Waktu yang dibutuhkan untuk pembuatan kompos ini berkisar antara 3 – 4 minggu tergantung dari tingkat kejenuhan air dari bahan baku.  Kompos yang dihasilkan biasanya berkurang setengah dari total bahan baku basah.


Jangan dikira kompos ini baunya menusuk hidung. Setelah diproses melalui beberapa tahap, kompos yang siap dipakai mempunyai warna dan bau seperti tanah.  Saat ini, kompos telah dimanfaatkan untuk kegiatan nursery PT Adaro Indonesia.


Rencana kedepan, para kontraktor akan dilibatkan di dalam program pengolahan sampah organik untuk memaksimalkan kegiatan Reklamasi PT Adaro Indonesia.

Komentar
Buat Baru Cari
+/-
Tulis Komentar
Nama:
Email:
 
Website:
Judul:
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch::(:shock:
:X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s:!::?::idea::arrow:
 
Silahkan Masukkan Kode Anti spam.
budi krisnawan  - Salut.   |2010-06-02 09:59:25
Pangan dan energi adalah kebutuhan pokok manusia.
Tetapi sumber energi fosil yang dipakai saat ini pada suatu saat pasti akan habis dan terjadi krisis energi.
Sebaliknya pangan Meskipun bisa terbarukan,tetapi melihat kondisi obyektif lahan pertanian Indonesia yang hanya sekitar 12.5 juta HA dan itupun sudah dalam kondisi "sakit"[miskin hara]bisa dipastikan suatu saat juga akan terjadi krisis pangan bila tidak ada upaya untuk mengatasinya.
Disisi lain generasi muda keluarga petani saat ini sudah tidak berminat lagi menjadi petani karena realitanya selama ini petani selalu miskin.
Krisis energi untuk sementara waktu hanya bisa diatasi dengan mengolah bahan2 pangan[biji2an dan umbi],artinya kedepan bidang pertanian adalah SOLUSI SATU2NYA untuk memenuhi kebutuhan pokok manusia[pangan & energi].
Disisi lain hampir 100 juta HA lahan di Indonesia kritis dan terbengkalai, ditambah lagi dengan dampak GLOBAL WARMING,pertanian tidak dapat dilakukan lagi secara"tradisionil",perlu tehnik2 khusus dan tentunya pemakaian pupuk organik.
Dan tidak kalah pentingnya tradisi makan juga harus dirubah,mudah2an sampah basah yang dihasilkan di lokasi PT Adaro bukan sisa makanan.
Bila populasi penduduk Indonesia 240 juta jiwa,setiap orang membuang sebutir beras saja setiap makan,berarti dalam sehari beras yang terbuang percuma sebesar 3 x 240 juta = 720 juta butir,bila dihitung dalam berat mungkin seratus ton lebih/hari.
Melihat kondisi tersebut yang paling mendesak adalah merubah mindset generasi muda agar bangga menjagi petani dan merubah mindset seluruh rakyat Indonesia agar tidak membuang sebutir beraspun.
Realitanya makanan yang terbuang percuma sekitar 30%.

nuwun sewu.
 

SocialTwist Tell-a-Friend

Dialog Kepemimpinan Dahlan Iskan Bersama Alumni ITB

Dialog Kepemimpinan Dahlan Iskan Bersama Alumni ITB

Dengan sigap jari-jari Direktur Utama PT PLN (persero) Dahlan Iskan mengetik jawaban pertanyaan yang diajukan melalui surat elektronik yang dikirim oleh para alumni Institut Teknologi Bandung ...

Adaro Energy Akuisisi PT Bukit Enim Energi

Adaro Energy Akuisisi PT Bukit Enim Energi

Jakarta, Roabaca.com – PT Adaro Energy Tbk (IDX – ADRO) (“Adaro Energy”) mengumumkan bahwa pada 14 Oktober 2011, PT Alam Tri Abadi (“ATA”), anak perusahaan dariAdaro Energy, telah menandatangani akta ...

Aku Ingin Jadi Peneliti di Adaro

Aku Ingin Jadi Peneliti di Adaro

roabaca.com,- Bogor-Pemuda berkaca mata itu berusia 19 tahun, ia bernama Hanifullah Habibie. Sekilas tak ada yang menarik darinya. Namun siapa yang bisa menyangka kalau ia adalah satu-satunya mahasisw...

Dikpora KSB dan PTNNT Bahas Persiapan Program Sukses UN 2012

Benete, Roabaca.com.- Dinas Pendidikan dan Olahraga (DIKPORA) Kabupaten Sumbawa Barat dan PT Newmont Nusa Tenggara (PTNNT)  bekerja sama dengan  Lembaga Pendidikan Progressio Surabaya membah...