| Adaro Tingkatkan Ekonomi Warga Lewat Itik Alabio | |
|
|
Awalnya Ibnu Khair meyakini, usaha pertanian dirasanya jauh lebih menjanjikan. Hanya saja ketika dikalkulasi secara rinci, Ibnu Khair sadar bahwa potensi cost atau biaya jauh lebih besar ketimbang profit. Hal ini diperparah dengan kondisi iklim dan cuaca yang terkadang sulit diprediksi untuk disesuaikan dengan pilihan tanaman yang tepat. Persoalan lainnya tentu saja petani seolah dipaksa untuk memikirkan dari hulu hingga hilir; pembibitan, penanaman, pemupukan, irigasi, panen dan pasca panen. Semua komponen ini harus dipikul dan dipikirkan sendiri oleh warga. Bagi Ibnu Khair, kondisi demikian memaksanya memutar otak, mencari cara agar ada usaha lain yang dapat dijadikan lahan utama untuk menghasilkan dan mampu menciptakan kesejahteraan secara berlimpah. Dalam pengamatannya, alam Kalimantan yang dianugerahi Tuhan patut disyukuri. Kelimpahan air dalam bentuk bentangan rawa mestinya harus mampu dimaksimalkan dengan baik. Ibnu Khair dan juga warga lainnya mulai mendapatkan inspirasi, memaksimalkan potensi rawa dengan memelihara Itik Alabio, jenis itik petelur yang terkenal itu. Selam ini warga menangani itik alabio secara serampangan. Warga nampaknya masih menganggap pengelolaan pertanian tradisional merupakan satu-satunya sumber ekonomi utama. Sementara itu, memelihara itik pun dianggap tak lebih dari sekedar usaha sampingan. Dalam benak warga, terlebih Ibnu Khair, mengelola peternakan itik dianggap sebagai barang mahal. Walau mereka meyakini, ada potensi lain pada Itik Alabio, hanya saja bayangan rasa takut dan minimnya informasi, membuat warga tak punya pilihan lain, bertani tradisional tetap menjadi pilihan usaha utama. Persoalan lain yang hinggap dibenak warga adalah kebutuhan dana dan mananjemen pengelolaan itik. Inilah kendala utama yang dihadapi petani seperti Ibnu Khair. Tepatnya tahun 2009, Ibnu Khair berniat menjalankan peternakan itik petelur itu secara serius bersama anak dan istrinya. Namun Ibnu kesulitan modal untuk memulainya. Ibnu kemudian mendengar informasi mengenai Lembaga Keuangan Mikro yang dapat meminjamkan modal usaha bagi UKM dengan berbagai kemudahan. Ibnu akhirnya memperoleh pinjaman yang ia pergunakan untuk membeli itik dan bibit anakannya, vitamin, dan biaya operasional peternakannya. Tim CSR Adaro melihat keseriusan Ibnu dalam mengelola peternakannya dan usaha peternakan itik alabio Ibnu ini dapat dijadikan contoh bagi masyarakat disekitarnya bahwa usaha ini dapat dijadikan sebagai mata pencaharian yang dapat diandalkan selain bertani.
Potensi ekonomi ini jualah yang membuat Adaro memberikan hibah kepada Ibnu agar usaha Ibnu dapat berkembang. Adaro memberikan bantuan berupa dana untuk membangun 2 buah kandang, menambah bibit itik sejumlah 215 itik dan 100 ekor itik petelur. Fasilitas ini juga ikut dinikmati warga lainnya yang memiliki keseriusan dalam mengelola itik Alabio. Melalui LKM, Ibnu mendapat pelatihan berupa manajemen usaha maupun keuangan. Di tahun 2010 ini, Lembaga Pengembangan Bisnis (LPB) yang dibentuk tim CSR Adaro juga akan memberikan pelatihan untuk menambah keterampilan dan pengetahuan dalam mengelola peternakan itik. Secara rutin tim CSR Adaro melakukan monitoring maupun evaluasi terhadap usaha itik Ibnu Khair dan juga warga lainnya. Kehadiran Adaro lewat CSRnya membuahka hasil. Para petani seperti Ibnu kini tidak lagi melihat dan memandang beternak itik sebagai usaha sampingan. Dengan potensi profit yang menjanjikan, kini warga Banua Lawas, Tabalong memiliki kesibukan lain, menjadikan usaha itik sebagai bagian dari pekerjaan utama. Dukungan Adaro bagi warga telah menciptakan peluang dan potensi ekonomi alternatif di Tabalong. Kini Ibnu Khair, tidak hanya ditantang untuk mencukupi kebutuhan telur dan daging warga Banua Lawas, menyuplai wilayah Tabalong dan Kalsel secara umum adalah wilayah terbuka untuk pengembangan usaha dan suplai telur dan daging itik Alabio. |

Kehadiran Adaro di Kabupaten Tabalong Kalimantan Selatan memberikan warna tersendiri pada pengembangan kegiatan ekonomi masyarakat. Sebagaimana daerah lainnya, warga Tabalong lebih memilih bertani sebagai mata pencaharian utama. Jika pun ada aktifitas lain, warga memandangnya tak lebih dari sekedar kegiatan sampingan. Hal ini pula berlaku bagi Ibnu Khair, warga Banua Lawas Kabupaten Tabalong.
Dua pekan menjelang Lebaran, Jalan Soekarno-Hatta Lampung masih dalam kondisi rusak cukup parah. 





